Blog ini tidak dibuat oleh seorang Saksi Yehuwa. Blog ini membahas ajaran Saksi Yehuwa dengan menggunakan publikasi dan Alkitab. Ditujukan kepada siapa saja yang berhati tulus dan ingin memeriksa kebenaran pengajaran Saksi Yehuwa.
Tampilkan postingan dengan label Doktrin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doktrin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Oktober 2009

Apakah Yoh. 10:16 mengajarkan adanya dua golongan manusia: kawanan besar dan kawanan kecil?

(Yohanes 10:16) 16 ”Dan aku memiliki domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; mereka juga harus aku bawa, dan mereka akan mendengarkan suaraku, dan mereka akan menjadi satu kawanan, satu gembala.

Menara Pengawal mengajarkan:

Di Yohanes 10:7-16, Yesus mula-mula berbicara tentang ”domba-domba”nya yang kita mengerti adalah ”kawanan kecil” yang mempunyai tujuan kehidupan di surga. Yesus kemudian mengatakan, ”Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang [surgawi] ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Menara Pengawal 1986 s-27 hlm. 32 Pertanyaan Pembaca)

Apakah Alkitab memang mengajarkan demikian?

Yesus berkata bahwa “keselamatan berasal dari orang Yahudi” (Yoh. 4:22). Yesus sedang memaksudkan bahwa keselamatan pertama-tama ada pada orang Yahudi, karena Mesias hadir di kalangan Yahudi, sehingga dapat dikatakan bahwa “keselamatan berasal dari orang Yahudi”.
Paulus memahami hal ini dengan baik dan berkata “keselamatan … pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani” (Rom. 1:16)

Hal ini menggenapi nubuatan dalam Perjanjian Lama bahwa keselamatan dimulai dari orang Yahudi dan akan terus menjangkau orang lain di ujung bumi (Yes. 49:6; 56:8)

Yesus mengatakan “bukan dari kandang ini”. Perhatikan konteks ketika Yesus mengatakan itu. Ia sedang berbicara kepada murid-murid yang kesemuanya adalah orang Yahudi. Kata “ini” menunjuk pada komunitas Yahudi.

Jadi, domba-domba lain Yesus yang “bukan dari kandang ini”, berasal dari komunitas lain, yakni komunitas non-Yahudi.

Sebenarnya, ayat ini justru berlawanan dengan ajaran dua kelas, seperti yang diajarkan Menara Pengawal. Pada akhir ayat ini, dikatakan bahwa dua kawanan ini “akan menjadi satu kawanan.”

Kawanan besar dan kawanan kecil keduanya akan bergabung menjadi satu kawanan. Akan tetapi, Menara Pengawal mengajarkan bahwa kawanan besar dan kawanan kecil tidak akan bergabung, sehingga akan tetap menjadi dua kawanan yang terpisah selamanya (ada yang di surge, ada yang di bumi). Sungguh berbeda dengan yang diajarkan Yesus, bahwa kedua kawanan itu “akan menjadi satu kawanan.”

Jadi, apakah Alkitab mengajarkan bahwa kawanan besar dan kawanan kecil akan terpisah selamanya?

Bapa menciptakan Yesus (Ams. 8:22)

(Amsal 8:22) 22 ”Yehuwa sendiri menghasilkan aku sebagai permulaan pekerjaannya, yang paling awal dari hasil-hasil pekerjaannya di masa lampau.

Menara Pengawal mengajarkan:

Ya, Allah sedang berbicara kepada pribadi yang Ia ciptakan sebelum siapa pun dan apa pun, pribadi yang ”ada di sisi [Allah] sebagai pekerja ahli”. (Amsal 8:22-30) (Menara Pengawal 15/2, 2007 hlm. 13 par. 3 Suami—Akuilah Kekepalaan Kristus)

Apakah benar Ams. 8:22 mengajarkan demikian?

Sama halnya seperti Peny. 3:14, masalah yang terdapat pada ayat ini adalah masalah penerjemahan. Kata “menghasilkan” pada ayat ini berasal dari kata Ibrani, qanah. Kata qanah ternyata selain bermakna 'menciptakan', juga bermakna 'memiliki'*.

Jadi, 'qanah' pada ayat ini dapat kita terjemahkan sebagai memiliki dan penerjemahan ini tidak menyalahartikan kata 'qanah'.

Beberapa versi Alkitab menerjemahkannya sebagai berikut:

YLT: Jehovah possessed [memiliki] me--the beginning of His way, Before His works since then.
ESV: “The LORD possessed me at the beginning of his work, the first of his acts of old.

Sebenarnya, pada ayat ini, masih terdapat banyak perbedaan pendapat antara mereka yang menganggap "hikmat" di sini Yesus dan mereka yang menolak pendangan tersebut. Akan tetapi, anggaplah "hikmat" di sini adalah Yesus: apakah Bapa menciptakan Yesus? Apakah Bapa menciptakan hikmat? Apakah sebelum Bapa menciptakan hikmat, berarti Bapa tidak memiliki hikmat? Apakah Bapa adalah Allah yang pernah tidak memiliki hikmat?

Jadi, apakah Ams. 8:22 adalah dasar ayat Alkitab yang kuat untuk membuktikan bahwa Yesus adalah ciptaan Bapa?


*qanah kaw-naw' a primitive root; to erect, i.e. create; by extension, to procure, especially by purchase (causatively, sell); by implication to own:--attain, buy(-er), teach to keep cattle, get, provoke to jealousy, possess(-or), purchase, recover, redeem, X surely, X verily. (Strong,s Hebrew)

Ajaran tentang neraka tidak memuliakan Allah

Menara Pengawal mengajarkan:

Apakah saudara yakin bahwa ajaran tentang kutukan kekal dalam neraka membuat orang tertarik pada Allah? Sama sekali tidak. Dalam pikiran orang-orang yang adil dan pengasih, gagasan siksaan kekal sangat menjijikkan! Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa ”Allah adalah kasih” dan bahwa kekejaman, bahkan terhadap binatang, merupakan hal yang sangat dibenci-Nya.—1 Yohanes 4:8; Amsal 12:10; Yeremia 7:31; Yunus 4:11. (Menara pengawal, 1/6, 2000 hlm. 6 Berubahnya Wajah ”Kekristenan”—Diterima Oleh Allah?)

Apakah memang benar bahwa ajaran neraka tidak memuliakan Allah dan membuat Allah menjadi pribadi jahat yang tidak memiliki kasih?

Kesalahan kita dalam hal ini adalah hanya melihat satu sisi Tuhan saja, yakni kasih, dan mengabaikan sifat-sifat lainnya, seperti keadilan Allah. Kita selalu mengekspos betapa jahatnya Tuhan jika neraka itu ada tanpa memikirkan aspek keadilan. Aspek keadilan, bersinergi dengan kasih, memungkinkan proses penghakiman, saat-saat mempertanggungjawabkan perbuatan. Ketika suatu pribadi memberikan hukuman, tak berarti bahwa ia jahat, malahan pribadi yang dijatuhi hukuman yang jahat.

Ilustrasi: seorang guru yang menghukum muridnya yang tak mengerjakan tugas. Apakah kita dapat dengan mudah mengatakan bahwa guru tersebut jahat, karena menghukum murid tersebut? Juga, seperti seorang pembunuh dijatuhi hukuman seumur hidup. Apakah hakim jahat?

Allah dikatakan sebagai hakim yang adil (Mzm. 7:11a), penuh keadilan. Allah yang adil, akan menghakimi, dan penghakiman-Nya adil adanya.

Ketika kita menggunakan kata “jahat” dan diterapkan kepada Tuhan, pada saat yang sama kita telah berlaku seakan-akan kita pemegang standar kebenaran tertinggi, seperti Tuhan. Padahal baik atau tidaknya sesuatu itu menurut Tuhan.

Selain itu, Menara Pengawal mengajarkan adanya pemusnahan orang tak percaya pada Armageddon. Apakah Menara Pengawal juga mengatakan bahwa Allah jahat karena memusnahkan orang pada Armageddon?

Ajaran Tritunggal tidak masuk akal

Menara Pengawal mengatakan:

Betapa tidak masuk akal doktrin Tritunggal dibandingkan dengan pengajaran Alkitab yang sederhana bahwa Allah mahatinggi dan tidak ada yang setara dengan-Nya! (Menara Pengawal, 1/8, 1992 hlm. 23 Bagian 4—Kapan dan Bagaimana Doktrin Tritunggal Berkembang?)

Apakah memang benar demikian? Apakah doktrin Tritunggal memang tidak masuk akal? Lebih lanjut, apakah jika memang benar bahwa ajaran ini tidak masuk akal, maka ajaran ini pasti salah, karena “pengajaran Alkitab yang sederhana bahwa Allah mahatinggi dan tidak ada yang setara dengan-Nya”?

Doktrin Tritunggal secara ringkas adalah “bahwa di dalam Keilahian ada tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus; namun, bersama-sama, mereka hanya satu Allah” (Tritunggal hlm. 3 Haruskah Anda Mempercayainya?). Memang sulit dipahami bagaimana bisa tiga pribadi tersebut adalah satu Allah.

Apakah sebenarnya kita dapat memahami keseluruhan hakikat Allah? Ayub yang terilham menjawab pertanyaan ini:

(Ayub 11:7) 7 Dapatkah engkau mengetahui perkara-perkara yang dalam dari Allah, Atau dapatkah engkau mengetahui tentang Yang Mahakuasa selengkapnya (NWT: the very limit of the Almighty)? 8 Hikmat lebih tinggi daripada langit. Apa yang dapat engkau capai? Hikmat lebih dalam daripada Syeol. Apa yang dapat kauketahui? 9 Hikmat lebih panjang daripada ukuran bumi, Dan lebih luas daripada laut.

Secara tidak langsung, Ayub menjawab tidak. Mengapa demikian? Karena pengertian tentang Allah jauh melampaui daya pengertian kita. Dia melebihi (bukan bertentangan) dengan logika kita.

Ternyata kita, ciptaan, tidak dapat sepenuhnya memahami Allah, Pencipta kita. Jangankan memahami, mengetahui Allah secara lengkap pun kita tidak bisa. Sehebat apapun manusia yang terbatas, tidak akan bisa memahami sepenuhnya hakikat Pencipta Agung yang tidak terbatas.

Yang terpenting adalah apakah ajaran itu diajarkan dalam Alkitab atau tidak, bukan masalah apakah kita bisa memahaminya atau tidak. Firman Allah adalah kebenaran (Yoh. 17:17), sehingga otomatis kita harus mengikutinya, bukan Alkitab yang mengikuti keterbatasan kita.

Menara Pengawal pun sadar bahwa yang lebih penting adalah apakah suatu ajaran selaras dengan Alkitab, bukan apakah sesuai dengan logika kita atau tidak.

"Apakah ini masuk akal? Lebih penting lagi, apakah ini selaras dengan Alkitab?" (Kebenaran psl. 3 hlm. 22 par. 12 Siapa Gerangan Allah?)

Yang terpenting, janganlah ketika Alkitab sebenarnya mengajarkan Tritunggal, tetapi kita tolak dengan alasan, “Ah, ajaran apa ini? Tidak masuk akal. Tidak mungkin Allah mengajarkan ajaran yang tidak masuk akal,” malahan kita ganti dengan ajaran yang bagi kita terasa lebih sederhana untuk dipahami.

(2 Petrus 3:16) 16 yang berbicara tentang perkara-perkara ini seperti yang ia lakukan juga dalam semua suratnya. Akan tetapi, di dalamnya ada beberapa perkara yang sukar dimengerti, yang diputarbalikkan oleh orang yang tidak mendapat pengajaran dan yang tidak teguh, seperti yang mereka lakukan juga terhadap bagian-bagian lain dari Tulisan-Tulisan Kudus, dengan akibat kebinasaan atas mereka sendiri.

Jadi, pantaskah jika kita menolak ajaran Tritunggal karena ajaran ini bagi kita terasa tidak masuk akal?

Sabtu, 10 Oktober 2009

Yesus adalah malaikat Mikhael (1 Tes. 4:16)

(1 Tesalonika 4:16) 16 karena TUAN sendiri akan turun dari surga dengan seruan yang kuat, dengan suara penghulu malaikat dan dengan terompet Allah, dan mereka yang sudah mati dalam persatuan dengan Kristus akan bangkit lebih dahulu.

Menara Pengawal mengajarkan:

Di 1 Tesalonika 4:16 suara Tuan Yesus Kristus yang telah dibangkitkan digambarkan sebagai suara penghulu malaikat, yang menunjukkan bahwa ia sendiri sesungguhnya adalah sang penghulu malaikat. Ayat ini menggambarkan dia turun dari surga dengan ”seruan yang kuat [kiasan, penuh kuasa]”. Oleh karena itu, logislah jika sumber seruan kuat itu dilukiskan oleh sebuah kata yang tidak akan mengurangi atau mengalihkan perhatian dari wewenang tinggi yang kini dimiliki Kristus Yesus sebagai Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan. (Mat 28:18; Pny 17:14) Seandainya nama ”penghulu malaikat” tidak diterapkan kepada Yesus Kristus, tetapi kepada malaikat-malaikat lain, disebutkannya ”suara penghulu malaikat” itu tidak akan cocok, karena dengan demikian suara tersebut menggambarkan suara pribadi yang memiliki kekuasaan yang lebih kecil daripada yang dimiliki Putra Allah. (Pemahaman hlm. 126 Mikhael)

…masuk akal untuk menyimpulkan bahwa Mikhael tidak lain adalah Yesus Kristus dalam tugasnya di surga. (Alkitab Ajarkan hlm. 219 par. 1 Siapakah Mikhael, sang Penghulu Malaikat?)

Apakah Alkitab memang mengajarkan demikian?

Salah satu ajaran yang menarik dari Saksi Yehuwa adalah ajaran mengenai malaikat Mikhael, yang dipercaya sama dengan Yesus Kristus sendiri. Ayat 1 Tes. 4:16 sering digunakan untuk membuktikan ajaran ini.

Apakah benar kata buku Pemahaman bahwa “suara Tuan Yesus Kristus yang telah dibangkitkan digambarkan sebagai suara penghulu malaikat, yang menunjukkan bahwa ia sendiri sesungguhnya adalah sang penghulu malaikat” (sehingga berlaku “suara Yesus adalah suara Mikhael”, sehingga “Yesus adalah Mikhael itu sendiri”)? Ternyata tidak.

Ayat ini tidak mengatakan bahwa ada suara Yesus. Yang ada hanyalah suara penghulu malaikat, suara terompet Allah, dan “seruan yang kuat”. Apakah “suara yang kuat” ini adalah suara Yesus sendiri? Bukan.

Pertama, karena di 1 Tes. tidak dikatakan “suaranya yang kuat”. Jika memang itu adalah suara Yesus sendiri, maka ayat ini akan ditulis menggunakan kata ganti "nya" , “karena TUAN sendiri akan turun dari surga dengan seruannya yang kuat….”

Kedua, jika memang suara Yesus dan Mikhael sama, mengapa harus di sebutkan “suara yang keras” dan “suara penghulu malaikat”? Bukankah keduanya sama? Apakah tujuannya disebutkan dua kali? Mengapa penulisannya seakan dibedakan?

Ketiga, jika memang Yesus adalah Mikhael, mengapa tertulis “seruan yang kuat, dengan suara penghulu malaikat”, bukannya “seruan yang kuat, atau suara penghulu malaikat”. Kata “dengan” bermakna dua hal yang terjadi bersamaan.

Pada kejadian pada ayat itu:

1. “TUAN sendiri akan turun dari surga”

2. “dengan seruan yang kuat”,

3. “dengan suara penghulu malaikat”

4. “dan dengan terompet Allah, dan

5. “dan mereka yang sudah mati dalam persatuan dengan Kristus akan bangkit lebih dahulu”

Jika Menara Pengawal mengajarkan suara Yesus adalah suara Mikhael karena keduanya bersuara bersamaan, bukankah dengan cara berpikir yang sama dapat juga kita simpulkan bahwa Yesus adalah terompet karena suara Yesus dan suara terompet terdengar bersamaan?

Oleh karena itu, tidak ada alasan yang kuat untuk mengatakan “suara Tuan Yesus Kristus yang telah dibangkitkan digambarkan sebagai suara penghulu malaikat.”

Yesus adalah pribadi yang lebih rendah dari Allah, sehingga tidak mungkin Yesus adalah Allah (Yoh. 14:28)

(Yohanes 14:28) 28 Kamu telah mendengar bahwa aku mengatakan kepadamu: Aku akan pergi dan aku akan datang kembali kepadamu. Jika kamu mengasihi aku, kamu akan bersukacita bahwa aku akan pergi kepada Bapak, karena Bapak lebih besar daripada aku.

Menara Pengawal mengajarkan:

Alkitab sama sekali bukan mengajarkan Tritunggal, melainkan dengan jelas menyingkapkan kedudukan Allah Yehuwa sebagai yang tertinggi dan kedudukan Yesus yang lebih rendah. Sebagai contoh, Yesus mengatakan, ”BapaKu lebih besar dari pada Aku.” (Yohanes 14:28; 1 Korintus 15:28) (Sedarlah! Maret 1992 hlm. 21 Apakah Allah Suatu Misteri?)

Apakah Alkitab memang mengajarkan demikian?

Bapa dikatakan “lebih besar (greater)” daripada Yesus. Kata “lebih besar” menunjukkan bahwa ada seseorang yang berposisi lebih tinggi dari pada orang lainnya. Misalnya kata “orang-orang besar” (sebagai lawan kata dari “orang-orang kecil”, yang bermakna orang berkekurangan) yang menunjukkan bahwa kumpulan orang-orang tersebut memiliki posisi yang lebih tinggi daripada orang-orang kecil yang tak berdaya

Jika kita perhatikan, orang-orang besar dan orang-orang kecil sama-sama manusia (hakikatnya), tetapi berbeda posisi. Jadi, makna “Bapak lebih besar daripada Yesus”, adalah Bapa memiliki posisi yang lebih tinggi daripada Yesus. Mengapa bisa demikian?

Dua ayat referensi pada Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru untuk ayat ini akan membantu kita memahami hal ini lebih baik.

(1 Korintus 11:3) Namun aku ingin kamu mengetahui bahwa kepala dari setiap pria adalah KRISTUS; selanjutnya kepala dari seorang wanita adalah pria; selanjutnya kepala dari KRISTUS adalah Allah.

Ayat ini berbicara tentang posisi, bukan hakikat. Dikatakan “kepala dari seorang wanita adalah pria”, apakah hal ini berarti hakikat wanita lebih rendah daripada pria? Tentu saja tidak. Pria dan wanita memiliki hakikat yang sama, yakni sebagai manusia. Ayat ini sedang mengajarkan bahwa pria memiliki posisi yang lebih tinggi daripada wanita.

(Filipi 2:6) yang, walaupun ada dalam wujud Allah, tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah.

Ayat ini membicarakan ‘kedudukan”, atau dengan kata lain, “posisi.” Ayat ini mengajarkan bahwa Yesus yang dalam wujud Allah “mengosongkan dirinya dan mengambil wujud seorang budak dan menjadi sama dengan manusia” (ayat 7).

Hal ini berarti pada awalnya Yesus adalah Allah (“dalam wujud Allah”, ayat 6), tetapi Ia “mengambil wujud seorang budak.” Hal ini membuat Yesus menjadi lebih rendah daripada Bapa, tetapi tidak Ia berhakikat lebih rendah dari Bapa.

Dapat diumpamakan seorang direktur dan seorang sekertaris. Keduanya sehakikat (sama-sama manusia), tetapi posisi sang direktur lebih besar daripada sang sekertaris.

Jadi, ayat Yoh. 14:28 memang membuktikan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa, tetapi yang dimaksudkan di sini adalah lebih rendah secara posisi, bukan hakikat, sehingga ayat ini tidak dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Allah.

Yesus adalah ciptaan (Peny. 3:14)

(Penyingkapan 3:14) 14 ”Dan tuliskanlah kepada malaikat sidang jemaat di Laodikia: Inilah hal-hal yang dikatakan oleh Amin, saksi yang setia dan benar, awal dari ciptaan Allah,

Menara Pengawal mengajarkan:

“Kesimpulan yang masuk akal ialah bahwa pribadi yang dikutip dalam Penyingkapan 3:14 adalah suatu ciptaan, ciptaan Allah yang pertama, bahwa ia mempunyai permulaan.” (Bertukar Pikiran hlm. 396 par. 1 Tritunggal)

Apakah Alkitab memang mengajarkan demikian?

Yang dipermasalahkan di sini adalah kata arche (“awal”). Apakah makna dari kata arche?

Kata arche bermakna: awal, asal, pemimpin, penguasa*. Karena makna kata ini lebih dari satu, sehingga kita bisa menggunakan makna kata lain, seperti yang terdapat dalam terjemahan-terjemahan lain:

NIV: … the ruler of God’s creation. (penguasa, pengatur dari ciptaan Allah)

YLT: … the chief of the creation of God. (kepala dari ciptaan Allah)

Menara Pengawal sendiri menyadari bahwa :

Dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, bentuk-bentuk kata ar·khe′ (awal) diterjemahkan secara beragam menjadi ”wewenang pangeran”, ”pemerintah”, ”penguasa”, ”Pribadi Yang Berdaulat”. (Pemahaman hlm. 358 Pemerintah)

Nah, dalam bahasa Inggris awalan ”arch”, yang berarti ”kepala” atau ”utama”…. (Menara Pengawal 1 Februari 1991 hlm. 17 par. 9 Hormati sang Putra, Wakil Utama Yehuwa)

Oleh karena itu, ayat ini sama sekali tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa Yesus adalah pribadi yang dicipta.


*746 arche ar-khay' from 756; (properly abstract) a commencement, or (concretely) chief (in various applications of order, time, place, or rank):--beginning, corner, (at the, the) first (estate), magistrate, power, principality, principle, rule.